Sabtu, 20 Agustus 2016

CINTA TANPA RESTU

TAK SENGAJA MENGENALNYA

Namaku Indira , kisah ini bermula ketika aku gak sengaja melewati ujung jalan ketika aku pulang menuju ke rumah, tiba - tiba melewati 1 kerumunan anak muda yang sedang bersantai sambil mengobrol.
“ Permisi .. “ suara lirih ku ucapakan , “ silahkan .. “ sesosok pria tinggi kurus berambut lurus menjawabnya.  Beberapa kali dengan jarak agak lama terulang seperti itu , hingga akhirnya seorang sahabatku bernama Vita bicara “ kamu dapat salam tuh dari Revon. “ hah, siapa tuh ? “ jawabku. “ ituloch anak yang sering duduk di ujung jalan , kamu kalau pulang kerja lewat ujung jalan belakang itu kan ? dia anak situ juga , tapi karena kamu jarang nongkrong di lingkungan sini , kamu gak tau deh” sahut Vita.
“ Iya Vit, dari kecil gak pernah di perbolehkan main di lingkungan sini sama Papa, katanya lebih baik belajar dirumah dari pada harus main – main sama tetangga “ jawabku sedih.
Disekitar rumah ,  papa terkenal dengan pria yang berwajah  sangar , tegas dan bersuara lantang tetapi Gak berapa lama ada SMS masuk “ Hai Ndry , gue Revon .. “ , “ Iya , Ada apa yaa Von ? “ bingung mau balas apa. “ Gue denger dari Vita lu lagi butuh kerjaan yaa ? ada lowongan nih “ balasnya.
Wah kok dia tiba – tiba tau nomer handphone aku yaa? Pasti Vita nih…. Pikirku.
Akhirnya aku menghubungi dia untuk menanyakan lebih lanjut & ternyata benar.
Awalnya Revon ketemu Vita yang kebetulan pacar Vita adalah teman Revon , dia sedang menginfokan lowongan kerja sebagai officer yang dia dapatkan melalui saudaranya, akhirnya Vita bilang bahwa aku sedang tidak bekerja dan mengusulkan untuk menawarkan ke aku langsung dan tanpa ijin , Vita memberikan nomer hp ku karena dia pikir untuk urusan lowongan kerja. Aku gak bisa marah , mau bagaimana lagi.
Akhirnya aku menyetujui untuk dapat hadir di wawancara lowongan kerja tersebut oleh Revon.
“ Bagaimana hari ini jadi hadir wawancara kesana ? “ sms masuk ke hpku.
“Iya , ini masih di Kampus teman sebentar lagi baru mau jalan kesana “ jawabku.
“ mau diantar ? takutnya gak tau atau nyasar hehehe “ balasnya.
“ Oh gak usah, soalnya gue lagi di daerah Daan Mogot dekat ko kesana “ jawabku. Kebetulan waktu itu tempatnya dekat sekitaran Daan Mogot juga.
 “ oh oke , hati – hati kalau begitu . kalau nyasar atau apa , hubungi gue aja “ SMS Revon
Akhirnya aku menuju kesana , benar aja jalanan berkelok – kelok dan daerah yang gak aku kenal membuat nyasar dan terlambat untuk wawancara padahal udah 2 jam sebelum jam wawancara sudah menuju kesana, maklum belum ada Waze / google Maps waktu itu. Dengan keadaan bingung dan lelah .. “ pulang aja yuk cetus Carlin . Teman yang mengajak aku ke kampusnya.
Dan kita memutuskan untuk pulang.
Malam harinya Revon SMS “ gimana tadi wawancaranya keterima gak ? “
Bingung dan rasa gak enak bercampur jadi satu , bingung mau jawab apa.
“ maaf yaa Revon tadi gue gak jadi wawancara karena nyasar dan terlambat “ balas aku.
Gak lama panggilan telepon masuk bertuliskan Revon. “ haduuh dia telepon lagi ?! “
“ iya Von ? “ baru aku jawab seperti itu dia udah melontarkan pertanyaan “ kenapa ga telepon gue ? gue kan bisa kasih tau jalan dan patokkannya. Kasihan udan jauh – jauh juga “
“ eh iya , maaf tadi uda nanya – nanya tapi gak ketemu. “ jawabku..
Akhirnya kami pun mengobrol kurang lebih 5 menit dan dia bilang akan menanyakan kembali apakah bisa wawancara ulang. Setelah menutup telepon , aku bisa menyimpulkan bahwa dia orang yang low profile , asik dan kenapa yaa ngobrol sama dia bisa nyambung ? .. pikirku.
Dan setelah itu kami menjadi sering berbicara lewat telepon untuk mencaritahu aktifitas kami sehari – hari.




MENCOBA MEMBAUR DENGAN LINGKUNGAN KU

Siang itu Revon telepon dan bertanya “ kamu mau ikut gak nonton acara music besok malam ? “
Dia sepertinya mencoba lebih mendekatkan diri lagi sama aku.
“ Hempp .. acara music apa? Dimana ? Jam berapa ? ” sahutku.
“ Di dekat menteng , acara music Rock , jam 9 malam.. nanti kalau kamu mau aku pesan dulu tiketnya ke Doni “ Doni itu pacarnya Vita. “ Wah Vita ikut donk ? nanti aku coba ijin sama papa dulu ya , beli aja tiketnya dulu”.
Dan keesokkan harinya Vita pun kerumah untuk menjemput dan ijin ke papa, kalau papa tahu sama dia pergi kemana saja dan jam berapa pulangnya gak akan diomelin, tapi kalau sama yang lain jangan kan diijinkan , kata “ iya “ saja susah.
Singkat cerita di ujung jalan aku naik satu motor dengan Revon dan Vita dengan Doni.
Sesampainya disana , aku bingung dengan situasinya dan aku gak ngerti harus ngapain ?
“ Von , aku bingung .. “ , “ kenapa ? “ sahur Revon.
“ Keluar aja yuk , aku takut disini “ jawabku.
Jelas aku takut kerana banyak orang nyanyi teriak – teriak dan sambil digendong – gendong , mosing kalo kalau ga salah namanya.
“ Maaf yaa kamu gak pernah ke acara music seperti ini ya? Kita cari makan aja yuk ? “
“ Vita gimana ? aku kan pergi sama dia .. “ jawab ku.
“ Kamu telepon aja dia bilang mau makan , satu jam lagi kita kesini lagi “ ide Revon
Aku telepon Vita dan dia setuju. Kamipun berangkat ke arah cipinang untuk mencari ketoprak teh poci yang dia ceritain. Sesampainya disana, tutup dan kami pindah ke daerah tebet untuk makan ayam bakar.
Disana kita ngobrol dan cerita banyak , setelah makan selesai Vita pun menelepon dan bilang sudah selesai acaranya , aku dan Revon kembali menuju ke Menteng.
Disana Doni , Vita dan beberapa teman lain mengajak kita untuk wisata malam yaitu uji nyali di salah satu makan di bilangan Jakarta Selatan. Benar – benar gak ada kerjaan , dan kami pun berdelapan  berangkat.
Menuju disana , suasana mencekam dan oleh salah satu juru kunci disana kita diajak muter – muter dan diceritakan beberapa makam yang berpenghuni , satu jam berlalu .
Ketika melewati salah satu makam , tiba – tiba aku terpeleset dan hampir jatuh , Revon meraih tangan aku dan menggandeng aku , jantung terasa semakin cepat berdebar , dia terus menggandeng sampai di ujung jalan. “ kami gak apa – apakan ? ada yang luka ? “ dengan nada khawatir. “ gak , gak apa – apa tadi Cuma licin aja tau – tau terpeleset “ sahut ku.
“ Pulang yuk .. aku ngantuk banget “ melihat jam tangan , waktu sudah menunjukkan jam 3 dini hari.
Sepanjang jalan , mata aku gak bisa diajak kompromi , semakin ngantuk dan ngantuk akhirnya aku tertidur dipundak Revon, ketika sayu – sayu aku terbangun , dia sambil berkendara sambil menggenggam tanganku agar gak jatuh. Sesampainya dirumah , aku bangun dan Revon bilang “ kamu langsung istirahat yaa .. kamu cape banget kelihatannya “. Setelah berganti baju tidur , aku pun terlelap hingga siang hari , untungnya hari Minggu , kalau hari Senin pasti ramai dirumah dan gak bisa bangun siang hehehe.
Pas bangun aku melihat Hp ternyata Revon semalam SMS, aku balas “ aku baru bangun .. kamu lagi apa ? “
“ Dasar kebo , Aku mah udah makan dan mandi dari tadi.. Mandi sana .. “ balas Revon.
Setelah mandi dan makan papa meminta aku untuk ke rumah Oma karena Oma sendirian.



AKU SUKA KAMU

Sore hari , Sesampainya disana Revon telepon.
“ Keluar yuk , ada yang pengen aku omongin “
“ Yah aku lagi di Depok , rumah oma.. nanti aja yaa kalau aku uda pulang “ jawabku.
“ Yauda aku bicara lewat telepon yaa , jangan kamu pikir aku bukan pria gentle yaa, nanti kalau ketemu aku ulang langsung “.
Dalam hati aku bergumam jangan – jangan dia mau nembak nih.
“ aku suka kamu , kamu mau gak jadi pacar aku ? “ Tanya Revon.
Benar saja apa yang aku pikirkan. Munculah ide untuk coba memancing dia “ aku males ah jawabnya lewat telepon , nanti aja kalau ketemu aku jawab langsung yaa..”
“ Jawab aja sekarang “.
“ Kamu depoknya dimana ? “ Tanya Revon.
“ Jauhhhh di Parung , kamu gak tau deh “ Balas aku.
“ Kirimin aku alamat dan patokkannya , besok aku kesana sehabis balik ke kampus “ jawabnya.
Dan aku pun kirim alamat gak lengkap , hanya ada nomer rumah dan patokkannya salah satu pesantren terdekat.
Keesokkan harinya dia telepon dan bilang “ tebak aku dimana ? keluar donk “
Sontak aku terkejut dan keluar pintu gerbang yang jaraknya kurang lebih lima meter dari rumah oma.
“ kamu ……..? “ aku gak bisa berucap apa – apa .
“ boleh aku masuk ? “ Tanya dia. “ ii… ii..iya … “jawabku bingung.
Dia pun masuk dan salam sama oma, setelah aku menyuguhkan minum dan cemilan , dia bicara
“ jago kan aku bisa sampai disini ? “
“ Iya jagoo banget , tau – tau di depan gerbang aja .. kaya uda pernah kesini aja “ sahutku.
“ Aku gitu loch “ jawabnya ngeledek.
“ Aku udah disini , aku suka kamu maukah kamu jadi pacar aku ? “ tatapan mukanya serius.
“ iii....yaa aku mau , gimana aku bisa nolak kalau usaha kamu sampai segininya untuk bicara ini “ jawab aku.
“ Jadi sekarang kamu pacar aku ? “ dia memastikan.
“ iyaa .. “ sambil tersenyum bahagia. Setelah ngobrol lama , tidak terasa sudah malam , Revon pun pamit.
“ Aku pulang ya.. kamu kapan pulang sayang nya aku ? “ dengan nada manja.
“ Aku pulangnya lusa yah, karena Om belum pulang dan Oma masih sendirian “ jawabku
Setelah pamit sama oma , Oma meminta Revon untuk bermalam disini karena kami hanya berdua.
Akhirnya dia memutuskan untuk bermalam dan esok kan pagi nya pulang untuk kuliah.




MENGENAL KELUARGA AKU

                Hari berganti Minggu , Minggu berganti Bulan . Hubungan kami semakin akrab dan dekat , dia mengajak aku bertemu dengan Keluarga kakaknya. Disitu aku bertemu dengan kakak perempuan dua keponakannya yang cepat akrab dengan orang baru dan  setelah itu aku diajak kerumahnya untuk kenal dengan kakak laki – laki , ayah dan ibunya. Semakin hari aku semakin akrab dengan keluarganya, aku dianggap sebagai anaknya sendiri, singkat cerita rumah dia sudah menjadi rumah kedua untukku , ketika aku sakit pun aku lebih memilih untuk mamanya yang merawat aku daripada dirumah aku sendiri. Bulan berganti tahun , udah genap satu tahun kita bersama , aku memesan cupcakes special dengan karikatur wajah kita. Dan dia membooking tempat makan malam di atas gedung dengan ruangan terbuka daerah Semanggi.
Setiap momen penting dihidup aku , dia selalu mempersiapkan rencana untuk memberi kejutan.
Hal yang paling indah adalah , ketika tahun kedua kita bersama , di tengah malam ulang tahun aku dia telepon dan meminta aku untuk keluar rumah. Sontak aku terkejut , dia mengajak Vita , Carlin dan Limah kerumah dan dia menyiapkan pemain biola , kue dan boneka. Ya Tuhan , malam ini indah sekali.
Sahabat – sahabat dan pacar membuat kejutan semanis ini. Benar – benar tidak bisa aku lupakan.
Terima kasih Revon , karena kamu hari – hari aku selalu di hiasi dengan warna – warni.
Perjuangan kami benar – benar dari awal, bagaimana tidak dari awal ?
Dia kuliah dan aku belum bekerja. Ada satu kisah yang paling sedih yang kita jalani berdua , saat kita sama – sama tidak ada uang untuk sehari – hari , hanya mengandalkan uang saku yang ayah Revon berikan setiap hari, dan aku pun malu untuk meminta terus ke Papa. Akhirnya ada ide untuk kita membuat sebuah online shop . Kita berdua yang mencari bahan untuk jualan , kita yang mempromosikan lewat media social dibantu oleh kakak lelakinya yang mengerti soal promosi.
Beberapa bulan usaha kita berjalan lancar dan kita berhasil , aku mendapatkan pekerjaan di salah salah satu perusahaan sebagai resepsionis, dia mengurus usaha onlineshop kami sendirian untuk belanja pesanan.
Setiap pagi dia mengantar aku kerja , lalu kekampus dan setelah pulang kampus dia berbelanja.
Dan pada akhirnya kakak Revon menawarkan kerja diselala libur kuliahnya , menjadi team leader di salah satu divisi.
Onlineshop kami pun berhenti setelah belum setahun berjalan, dia dan aku sibuk bekerja.



MASALAH MULAI BERDATANGAN

                Papa sepertinya sudah berubah , setiap Revon kerumah reaksinya sudah diam dan seolah tidak mau tahu lagi. Memang Revon dan Papa tidak dekat , hanya sekedar tegur sapa saat Revon main kerumah.
“ Papa gak suka kamu dekat lagi dengan dia ! “  Papa membuka pembicaraan dengan nada tinggi.
“ Kenapa Pah ? kok tiba – tiba seperti ini ? “ Jawabku kepada Papa.
Ntah kenapa dari sejak dulu papa tidak pernah setuju aku dekat dengan seorang pria, dulu waktu aku pacaran dengan Hada ( Nama mantan waktu SMA hingga aku mulai bekerja ), papa juga bersikap seperti ini , tetapi kali ini papa lebih melarang.
“ Papa gak suka kamu pacar – pacaran dengan dia , karena dia itu saudara sedarah dengan kamu ! “ papa menegaskan.
Bagai tersambar petir disiang bolong, bagaimana bisa aku sama dia masih sedarah? Kenapa papa gak bilang dari awal? Kenapa setelah masuk tiga tahun hubungan kita , papa baru angkat bicara.
Aku pun gak percaya begitu saja, aku mencaritahu kepada ayah Revon.
“ Ngga lah , kita saudaraan dari mana ? Om sama almarhum Opa kamu itu berteman , bukan saudara.”  tegas ayah Revon. “  Ternyata ayah Revon adalah teman Almarhum Opa dulu , mereka kenal dan akrab.
Usut punya usut , ternyata ada satu orang tetangga aku menghasut papa agar tidak suka sama Revon.
Waktu itu pukul 22:00 malam aku pulang diantar Revon , dengan tatapan penuh amarah papa pergi meninggalka Revon yang ingin pamit pulang. “ Kamu gak dengar yaa apa yang papa bilang ? papa gak suka kamu sama dia !! “ bentak papa. “ Tapi pah , kenapa ? aku uda cari tahu Revon bukan gak ada ikatan darah sama kita . “ sahut ku.
“ Sekarang kamu udah berani ngelawan yah, dia ngajarin kamu ngelawan orang tua ? hahh !! “ penilaian papa yang tidak beralaskan. Akhirnya aku tinggal masuk kamar. Revon menelpon “ sayang lagi apa ? udah mau bobo yah ? “ dengan nada manja. “ aku lagi dikamar aja mikirin omongan papa “ jawabku.
“ Gak usah dipikirin yaa sayang , mungkin papa kamu habis di hasut lagi sama si kutil ( nama sebutan untuk pria rese itu ), sekarang mending bobo , besok kan kerja lagi. “
Semenjak itu aku tidak pernah mengizinkan Revon kerumah lagi dan kamipun backstreet.
Ada aja sikap papa , yang menekan aku untuk berpisah dengan Revon dan memang akhir – akhir ini aku dan Revon sering bertengkar. Dan aku pun memutuskan untuk berpisah , tetapi Revon tidak menerima dia tetap ingin menjalani ini semua.




BENARKAH YANG AKU PILIH ?

Setelah berpisah dengan Revon aku tak sengaja mengenal seorang pria yang tidak lain adalah teman adikku dia adalah Rudin, pria ini benar – benar agresif setiap ketemu di rumah dia selalu memaksa aku untuk menerima cintanya. Dengan berat hati dan belum bisa melupakan Revon , aku menerima cintanya. Satu bulan dia dekat dengan aku , dia mengutarakan keinginannya untuk melamar aku kepada kedua orang tuaku. Mungkin aku orang yang paling salah , aku menyetujui lamarannya tapi dihatiku masih ada Revon. Tiga bulan berjalan, ada banyak berita burung mengenai Rudin , waktu itu lebaran pertama aku bersama dia dan dia mengajak aku kerumahnya untuk bertemu keluarganya. Ketika itu aku gak bertemu siapa – siapa dirumahnya , padahal dia udah bilang kepada orang tuanya bahwa aku akan berkunjung. Aku hanya bertemu adik perempuan dan kakak perempuannya. Aku ngobrol dan tidak lama aku pamit. Singkat cerita aku mencoba untuk dekat dengan keluarga Rudin seperti aku dengan keluarga Revon. Ternyata sikapku salah, kakak perempuan Rudin sangat tidak sopan , dia menuduh aku adalah penyebab perubahannya Rudin selama dia dekat dengan aku dan memojokkan aku bahwa aku memonopoli keuangan Rudin selama ini karena Rudin tidak pernah memberikan kepada orang rumahnya lagi. Aku pun gak pernah tahu bagaimana pendapatan Rudin. Mama dan Adik Ipar Papaku akhirnya bertindak karena banyak rumor soal diriku,karena Rudin ternyata tetangga dekat Adik mamaku. Pada malam tahun baru mereka datang bertemu dengan Ibu dari Rudi . Ibu Rudin bilang bahwa Rudin gak pernah bilang sudah melamar aku dan kabar burung soal aku , dia tidak pernah bicara. Ntah siapa yang benar , jawaban Rudin dan Ibu nya berbeda. Akhirnya suatu malam aku diajak bertemu Ibu Rudin dengan Rudin , Mama dan Tante . Dan semua kebohongan Rudin terkuak aku memutuskan untuk bilang langsung kepada Ibu Rudin kalau mulai malam ini saya dan dia tidak ada hubungan apa – apa lagi , apapun menyangkut soal saya udah diluar tanggung jawab saya. Sesampainya dirumah , saya langsung masuk kamar , dan Tante berbicara dengan Papa. Papa kecewa dengan Rudin, tega – tega nya dia berbohong dengan Papa. Rudin masih menghubungi saya dan memohon agar tidak meninggalkan dia.
Semenjak kejadian itu papa bersikap lebih peduli dan sayang lagi padaku.




AKU MASIH MENCINTAI DIA

Aku memantau kegiatan Revon di media social , ternyata dia lagi sibuk Tugas Akhir.
Aku coba menyapa dia dan gak lama dia membalas . Sejak itu akupun terus menghubungi dia.
Aku ingin sekali bertemu dia , uda hamper empat bulan aku gak melihat dia.
“ Aku lagi mau cari buku baru nih , kamu ada waktu gak buat nemenin aku ? “ aku bbm Revon.
“ Aku bisa kok, kamu mau kesana kapan ? mau aku jemput ? “. Balas Revon
“ Besok jam 7 malam yaa , aku tunggu kamu di Toko buku Matraman ya.” Jawabku.
Keesokkannya jam 7 lewat aku baru sampai , dari kejauhan aku melihat pria yang selama ini aku rindukan, pria itu Revon , yang sedang menungguku di depan toko buku.
“ Kamu udah lama disini ? “ tanyaku. “ ngga kok aku baru sampai juga..yuk ke dalam” Jawab Revon.
Sebenarnya sih aku belum butuh buku baru, itu hanya alasan agar bisa ketemu dia.
Kurang lebih 1 jam kami muter – muter untuk mencari buku yang aku mau, kita cari makan di dekat toko buku.
Disitu Revon menggenggam tanganku dan bilang “ kita bisa gak yaa kaya dulu lagi ? aku masih sayang kamu “.
Aku gak bisa berucap apa – apa karena aku masih mencintai dia juga. Aku hanya menggangguk untuk menandakan iya. Beberapa minggu kemudian dia bilang “ aku lulus donk , akhirnya aku ganti nama jadi Revon SH “.
Haru mendengar berita itu , dan di hari wisudah dia aku hadir dengan Ibu Revon.
Tidak lama Revon mendapatkan pekerjaan di salah satu Bank Swasta di bagian personal load sebagai Leader.
Semenjak bekerja , Revon mulai berubah seolah aku dan dia berjarak. Mungkin karena pekerjaannya yang menyita waktunya. Muncul lagi si mulut pengadu, papa mulai marah – marah lagi. Aku bicara dengan Revon persoalan ini lagi, aku bilang “ aku beri kamu waktu 3 bulan untuk dekat dengan papa. Apalagi yang kamu takutin ? kamu udah bekerja sekarang dan kamu bisa membuat itu sebagai jaminan kamu untuk bisa di perlihatkan di depan papa. “
Tiga bulan berlalu tapi gak ada tanda bahwa mereka bisa dekat, aku pun gak bisa memilih antara papa atau Revon.
Dibulan ketiga , bertepatan dengan hari ulang tahun aku , aku dan Revon pergi merayakannya di Bogor.
Revon benar – benar bukan seperti Revon yang aku kenal, Revon lebih masa bodo dan cuek.
Kita pun sudah lebih sering bertengkar.



KEPERGIAN PAPA MENGHANCURKAN HATIKU

                Sabtu subuh , mama membangunkanku karena papa teriak kesakitan di dadanya.
Papa dibujuk ke Rumah Sakit tidak mau , papa hanya menjawab “ Papa mau disini aja , sebentar lagi “
Pagi harinya adik papa memaksa untuk menggotong papa ke RS dan kami membawa papa ke RS bilangan Rawamangun , yang tidak bertindak cepat setengah jam papa masuk UGD . Disitu ada Revon , dia bertemu papa , Revon juga sempat menggendong Papa untuk di rebahkan di tempat tidur. Papa gak berkata apa – apa ke Revon , Cuma tatapan kosong memandangnya. Siang hari tepat jam 11 aku dan Revon masih menunggu di ruang tunggu UGD, mama berteriak “ kaka .. papa tuh .. “ aku dan Revon berlari ke dalam , papa sudah tidak menyadarkan diri . Dan dokter sudah menangani papa. Kehendak Tuhan berbeda , papa pergi meninggalkan aku dan keluarga. Siang itu hati aku hancur menerima keadaan ini.  Kenapa pergi tanpa pernah menjelaskan kenapa dia tidak menyukai Revon.


MUNGKIN INI TERBAIK

Dengan keadaan hancur aku mengambil sikap untuk meninggalkan Revon.
Revon berubah sikapnya , dia lebih dekat dan peduli padaku dan keluargaku.
Tetapi aku sengaja berubah . Setiap Revon kerumah , aku mengusirnya dengan nada tinggi dan marah – marah.
Beberapa minggu selalu seperti itu, aku gak tahu harus bagaimana lagi ?
Aku dan dia tanpa restu Papa, dan kini papa pergi . Papa sempat melontarkan pernyataan “ sampai matipun papa gak setuju kamu sama dia “
Aku harus apa selain aku bersikap seperti ini ? hati dan sikap aku bertentangan.
Tapi ini cara satu – satunya agar Revon pergi dari aku mungkin ini terbaik.
Aku juga sengaja tidak menghapus chat dari Trian, pria yang tidak sengaja aku kenal melalui Octa, salah satu teman aku.
Akhirnya Revon menyerah dan benar – benar meninggalkanku.
Dengan segala penyesalanku, aku melepas dia.
Dan beberapa bulan kemudian , aku mendengar bahwa Revon sudah mempunyai kekasih baru teman kantornya.
Aku pun memutuskan untuk memulai hubungan baru dengan Trian , aku pun belum yakin 100 % bahwa pilihanku adalah benar. Tetapi mungkin ini jalan Tuhan , aku dan Revon berpisah dan dipertemukan dengan Trian.
Awal aku menjalin hubungan dengan Trian , aku merasa aneh karena Trian suka menceritakan mantan pacarnya.
Sedangkan aku dengan Revon dulu gak pernah seperti ini , Revon pun tidak pernah membahas persoalan mantannya ataupun bertanya soal mantanku. Hari berganti hari ,aku mencoba belajar membuka hati dengan menerima kenyatan bahwa sekarang aku dengan Trian. Banyak persoalan yang aku hadapi sepeninggalan Papa. Dan hanya Revon yang tahu benar bagaimana keadaan aku. Teman curhatku hanya Vita, karena Vita sahabatku dari Sekolah dan dia tahu bagaimana aku. Vita hanya bisa memberikan masukkan – masukkan ,mendengar keluh kesahku, karena mungkin Vita juga bingung harus bagaimana. Beberapa bulan kepergian papa , berat badanku mulai meyusut, banyak yang bilang aku benar – benar kurus sekarang. Bagaimana gak kurus , aku memikirkan semuanya sendiri tanpa ada yang bisa aku jadikan tempat berbagi. Aku mau menceritakan semua ini pada Trian, tapi aku gak bisa , karena aku belum percaya bahwa dia bisa menerima segala keadaan aku.



TERIMA KENYATAAN

                Revon masih terus berada dipikiran aku , aku masih belum bisa melupakan dia sedikitpun meski kini aku bersama Trian. Tetapi aku berpikir sampai kapan aku begini ? Revon sudah bahagia dan aku masih saja memikirkan dia. Aku harus terima kenyataan ini, meski berat. Tapi ini jalan yang sudah aku pilih.
Revon , meskipun kita gak bersama lagi , aku yakin kamu orang yang paling konsisten dan bertanggung jawabdalam menjalin hubungan , aku berdoa semoga kamu berbahagia , semoga dia selalu memberikan kebahagiaan yang gak pernah kamu dapatkan dari aku. Terima kasih , atas 5 tahun ini kamu telah menjadi lelaki yang terindah dalam hidupku. Lelaki yang benar – benar memahami segalanya tentang aku. Semoga Tuhan memberikan rejeki , kesehatan dan kebahagiaan selalu. Selamat tinggal Revon.

Beberapa bulan , aku belum bisa menjadi diriku sendiri ketika bersama Trian , karena mungkin perbedaan usai yang membuat aku agak segan dengan dia.
Trian pun terkadang menunjukkan sikap seolah dia sudah jauh lebih dewasa dariku.
Berberapa bulan aku dekat dengan dia , aku meminta dia untuk menunjukkan keseriusannya yaitu untuk melamar.
Dia pun mengiyakannya.


MUNGKIN INI JALAN DARI TUHAN

                Aku minta 3 bulan setelah pembicaraan itu, dia dan perwakilan keluarganya untuk datang kerumah menentukan tanggal pernikahan. Tanggal pernikahan pun sudah di tentukan , aku mencari kesibukkan sendiri yaitu mempersiapkan pernikahan. Aku semakin membuka hati untuk Trian, aku mencoba mengenal segala sifatnya. Tapi anehnya Trian gak seperti itu ke aku. Dia sifatnya berbeda dengan pria lain yang pernah singgah dihidupku, ada beberapa sifat dia mirip papa. Aku bisa belajar memanage keuangan dari dia , karena aku dan adik aku yang kedua sekarang menjadi tulang punggung untuk rumah. Aku benar – benar belajar sikap lebih sabar lagi dari Trian , karena dia selalu menguji kesabaran aku. Sempat aku berpikir bahwa benar gak pilihanku untuk menikah dengan Trian ? banyak sifat dia yang gak masuk dengan aku , Vita tau segalanya karena aku selalu bercerita dengannya. Terkadang agak goyah , tapi Vita selalu mensupport aku dan memberi banyak masukkan. Aku mulai belajar menjadi diri aku sendiri , karena selama ini aku hanya mengikuti keadaan, karena sejak kepergian papa , aku menjadi orang yang jauh lebih pendiam dan selalu menghindar dari masalah. Aku mulai berani untuk berbicara apa yang aku tidak suka dan aku suka. Sepertinya aku udah menemukan kemistri dengan Trian.  Aku mulai merindukan dia dihari – hariku. Dia sudah menjadi tempat bercerita semua keluh kesahku , sepertinya aku mulai nyaman bersama dia.


PERSIAPAN MENUJU PERNIKAHAN

Sekarang – sekarang ini aku sedang mengurus persiapan menuju pernikahan aku dan Trian, aku smakin banyak berkomunikasi dengan Trian. Semakin aku mengenal dia , aku merasa Tuhan memang memasangkan dengan pasangan yang tidak kita kira sebelumnya. Cara dia berpikir dalam memutuskan sesuatu membuat aku yakin bahwa aku bisa menjadi lebih baik lagi dan lagi.
Cekcok pasti ada , aku yang sekang sangat jauh berbeda dengan aku yang dulu , sedikit flash back aku yang dulu adalah perempuan yang egois, pemarah, pencemburu ( sekarang masih juga sih ) . Tetapi aku belajar dari masa lalu , bahwa mengendalikan emosi jika sedang marah itu jauh lebih menantang ketimbang aku harus menguras tenaga untuk bernada tinggi.
Dan sekarang , aku lebih suka diam dan mendengar penjelasan.
Ntah semua kejadian dalam hidupku ini , aku terima sebagai anugrah atau cobaan?!
Yang pasti , Allah akan memberi jalan terbaik bagi hambaNya yang mau berubah menjadi lebih baik lagi dan lagi.
Dan aku yakin , kisah cinta tanpa restu pasti ada alasan tersendiri bagi orang – orang tua yang merasakannya. Meski aku pun sampai sekarang gak tahu juga apa alasannya , aku hanya bisa selalu berbaik sangka bahwa ada rahasia yang luar biasa yang Allah siapkan setelah  kita mengalami keterpurukan.
Jangan membuang waktu dalam hidup , selagi kita masih bisa bersama dengan orang yang kita sayangi, hargai keberadaannya.
Karena kita akan merasa sangat mencintainya ketika kita sudah kehilangan.

1 komentar: