TAK SENGAJA
MENGENALNYA
Namaku Indira , kisah ini bermula
ketika aku gak sengaja melewati ujung jalan ketika aku pulang menuju ke rumah, tiba
- tiba melewati 1 kerumunan anak muda yang sedang bersantai sambil mengobrol.
“ Permisi .. “ suara lirih ku ucapakan , “ silahkan
.. “ sesosok pria tinggi kurus berambut lurus menjawabnya. Beberapa kali dengan jarak agak lama terulang seperti
itu , hingga akhirnya seorang sahabatku bernama Vita bicara “ kamu dapat salam tuh
dari Revon. “ hah, siapa tuh ? “ jawabku. “ ituloch anak yang sering duduk di
ujung jalan , kamu kalau pulang kerja lewat ujung jalan belakang itu kan ? dia
anak situ juga , tapi karena kamu jarang nongkrong di lingkungan sini , kamu
gak tau deh” sahut Vita.
“ Iya Vit, dari kecil gak pernah di perbolehkan main
di lingkungan sini sama Papa, katanya lebih baik belajar dirumah dari pada
harus main – main sama tetangga “ jawabku sedih.
Disekitar rumah ,
papa terkenal dengan pria yang berwajah
sangar , tegas dan bersuara lantang tetapi Gak berapa lama ada SMS masuk
“ Hai Ndry , gue Revon .. “ , “ Iya , Ada apa yaa Von ? “ bingung mau balas
apa. “ Gue denger dari Vita lu lagi butuh kerjaan yaa ? ada lowongan nih “
balasnya.
Wah kok dia tiba – tiba tau nomer handphone aku yaa?
Pasti Vita nih…. Pikirku.
Akhirnya aku menghubungi dia untuk menanyakan lebih
lanjut & ternyata benar.
Awalnya Revon ketemu Vita yang kebetulan pacar Vita
adalah teman Revon , dia sedang menginfokan lowongan kerja sebagai officer yang
dia dapatkan melalui saudaranya, akhirnya Vita bilang bahwa aku sedang tidak
bekerja dan mengusulkan untuk menawarkan ke aku langsung dan tanpa ijin , Vita
memberikan nomer hp ku karena dia pikir untuk urusan lowongan kerja. Aku gak
bisa marah , mau bagaimana lagi.
Akhirnya aku menyetujui untuk dapat hadir di
wawancara lowongan kerja tersebut oleh Revon.
“ Bagaimana hari ini jadi hadir wawancara kesana ? “
sms masuk ke hpku.
“Iya , ini masih di Kampus teman sebentar lagi baru
mau jalan kesana “ jawabku.
“ mau diantar ? takutnya gak tau atau nyasar hehehe “
balasnya.
“ Oh gak usah, soalnya gue lagi di daerah Daan Mogot
dekat ko kesana “ jawabku. Kebetulan waktu itu tempatnya dekat sekitaran Daan
Mogot juga.
“ oh oke ,
hati – hati kalau begitu . kalau nyasar atau apa , hubungi gue aja “ SMS Revon
Akhirnya aku menuju kesana , benar aja jalanan
berkelok – kelok dan daerah yang gak aku kenal membuat nyasar dan terlambat
untuk wawancara padahal udah 2 jam sebelum jam wawancara sudah menuju kesana,
maklum belum ada Waze / google Maps waktu itu. Dengan keadaan bingung dan lelah
.. “ pulang aja yuk cetus Carlin . Teman yang mengajak aku ke kampusnya.
Dan kita memutuskan untuk pulang.
Malam harinya Revon SMS “ gimana
tadi wawancaranya keterima gak ? “
Bingung dan rasa gak enak bercampur jadi satu ,
bingung mau jawab apa.
“ maaf yaa Revon tadi gue gak jadi wawancara karena
nyasar dan terlambat “ balas aku.
Gak lama panggilan telepon masuk bertuliskan Revon. “
haduuh dia telepon lagi ?! “
“ iya Von ? “ baru aku jawab seperti itu dia udah
melontarkan pertanyaan “ kenapa ga telepon gue ? gue kan bisa kasih tau jalan
dan patokkannya. Kasihan udan jauh – jauh juga “
“ eh iya , maaf tadi uda nanya – nanya tapi gak
ketemu. “ jawabku..
Akhirnya kami pun mengobrol kurang lebih 5 menit dan
dia bilang akan menanyakan kembali apakah bisa wawancara ulang. Setelah menutup
telepon , aku bisa menyimpulkan bahwa dia orang yang low profile , asik dan
kenapa yaa ngobrol sama dia bisa nyambung ? .. pikirku.
Dan setelah itu kami menjadi sering berbicara lewat
telepon untuk mencaritahu aktifitas kami sehari – hari.
MENCOBA
MEMBAUR DENGAN LINGKUNGAN KU
Siang itu Revon telepon dan bertanya “ kamu mau ikut
gak nonton acara music besok malam ? “
Dia sepertinya mencoba lebih mendekatkan diri lagi
sama aku.
“ Hempp .. acara music apa? Dimana ? Jam berapa ? ”
sahutku.
“ Di dekat menteng , acara music Rock , jam 9 malam..
nanti kalau kamu mau aku pesan dulu tiketnya ke Doni “ Doni itu pacarnya Vita.
“ Wah Vita ikut donk ? nanti aku coba ijin sama papa dulu ya , beli aja
tiketnya dulu”.
Dan keesokkan harinya Vita pun kerumah untuk
menjemput dan ijin ke papa, kalau papa tahu sama dia pergi kemana saja dan jam
berapa pulangnya gak akan diomelin, tapi kalau sama yang lain jangan kan
diijinkan , kata “ iya “ saja susah.
Singkat cerita di ujung jalan aku naik satu motor
dengan Revon dan Vita dengan Doni.
Sesampainya disana , aku bingung dengan situasinya
dan aku gak ngerti harus ngapain ?
“ Von , aku bingung .. “ , “ kenapa ? “ sahur Revon.
“ Keluar aja yuk , aku takut disini “ jawabku.
Jelas aku takut kerana banyak orang nyanyi teriak –
teriak dan sambil digendong – gendong , mosing kalo kalau ga salah namanya.
“ Maaf yaa kamu gak pernah ke acara music seperti ini
ya? Kita cari makan aja yuk ? “
“ Vita gimana ? aku kan pergi sama dia .. “ jawab ku.
“ Kamu telepon aja dia bilang mau makan , satu jam
lagi kita kesini lagi “ ide Revon
Aku telepon Vita dan dia setuju. Kamipun berangkat ke
arah cipinang untuk mencari ketoprak teh poci yang dia ceritain. Sesampainya
disana, tutup dan kami pindah ke daerah tebet untuk makan ayam bakar.
Disana kita ngobrol dan cerita banyak , setelah makan
selesai Vita pun menelepon dan bilang sudah selesai acaranya , aku dan Revon
kembali menuju ke Menteng.
Disana Doni , Vita dan beberapa teman lain mengajak
kita untuk wisata malam yaitu uji nyali di salah satu makan di bilangan Jakarta
Selatan. Benar – benar gak ada kerjaan , dan kami pun berdelapan berangkat.
Menuju disana , suasana mencekam dan oleh salah satu
juru kunci disana kita diajak muter – muter dan diceritakan beberapa makam yang
berpenghuni , satu jam berlalu .
Ketika melewati salah satu makam , tiba – tiba aku
terpeleset dan hampir jatuh , Revon meraih tangan aku dan menggandeng aku ,
jantung terasa semakin cepat berdebar , dia terus menggandeng sampai di ujung
jalan. “ kami gak apa – apakan ? ada yang luka ? “ dengan nada khawatir. “ gak
, gak apa – apa tadi Cuma licin aja tau – tau terpeleset “ sahut ku.
“ Pulang yuk .. aku ngantuk banget “ melihat jam
tangan , waktu sudah menunjukkan jam 3 dini hari.
Sepanjang jalan , mata aku gak bisa diajak kompromi ,
semakin ngantuk dan ngantuk akhirnya aku tertidur dipundak Revon, ketika sayu –
sayu aku terbangun , dia sambil berkendara sambil menggenggam tanganku agar gak
jatuh. Sesampainya dirumah , aku bangun dan Revon bilang “ kamu langsung
istirahat yaa .. kamu cape banget kelihatannya “. Setelah berganti baju tidur ,
aku pun terlelap hingga siang hari , untungnya hari Minggu , kalau hari Senin
pasti ramai dirumah dan gak bisa bangun siang hehehe.
Pas bangun aku melihat Hp ternyata Revon semalam SMS,
aku balas “ aku baru bangun .. kamu lagi apa ? “
“ Dasar kebo , Aku mah udah makan dan mandi dari
tadi.. Mandi sana .. “ balas Revon.
Setelah mandi dan makan papa meminta aku untuk ke
rumah Oma karena Oma sendirian.
AKU SUKA
KAMU
Sore hari , Sesampainya disana Revon telepon.
“ Keluar yuk , ada yang pengen aku omongin “
“ Yah aku lagi di Depok , rumah oma.. nanti aja yaa
kalau aku uda pulang “ jawabku.
“ Yauda aku bicara lewat telepon yaa , jangan kamu
pikir aku bukan pria gentle yaa, nanti kalau ketemu aku ulang langsung “.
Dalam hati aku bergumam jangan – jangan dia mau
nembak nih.
“ aku suka kamu , kamu mau gak jadi pacar aku ? “
Tanya Revon.
Benar saja apa yang aku pikirkan. Munculah ide untuk
coba memancing dia “ aku males ah jawabnya lewat telepon , nanti aja kalau
ketemu aku jawab langsung yaa..”
“ Jawab aja sekarang “.
“ Kamu depoknya dimana ? “ Tanya Revon.
“ Jauhhhh di Parung , kamu gak tau deh “ Balas aku.
“ Kirimin aku alamat dan patokkannya , besok aku
kesana sehabis balik ke kampus “ jawabnya.
Dan aku pun kirim alamat gak lengkap , hanya ada
nomer rumah dan patokkannya salah satu pesantren terdekat.
Keesokkan harinya dia telepon dan bilang “ tebak aku
dimana ? keluar donk “
Sontak aku terkejut dan keluar pintu gerbang yang
jaraknya kurang lebih lima meter dari rumah oma.
“ kamu ……..? “ aku gak bisa berucap apa – apa .
“ boleh aku masuk ? “ Tanya dia. “ ii… ii..iya …
“jawabku bingung.
Dia pun masuk dan salam sama oma, setelah aku
menyuguhkan minum dan cemilan , dia bicara
“ jago kan aku bisa sampai disini ? “
“ Iya jagoo banget , tau – tau di depan gerbang aja
.. kaya uda pernah kesini aja “ sahutku.
“ Aku gitu loch “ jawabnya ngeledek.
“ Aku udah disini , aku suka kamu maukah kamu jadi
pacar aku ? “ tatapan mukanya serius.
“ iii....yaa aku mau , gimana aku bisa nolak kalau
usaha kamu sampai segininya untuk bicara ini “ jawab aku.
“ Jadi sekarang kamu pacar aku ? “ dia memastikan.
“ iyaa .. “ sambil tersenyum bahagia. Setelah ngobrol
lama , tidak terasa sudah malam , Revon pun pamit.
“ Aku pulang ya.. kamu kapan pulang sayang nya aku ?
“ dengan nada manja.
“ Aku pulangnya lusa yah, karena Om belum pulang dan
Oma masih sendirian “ jawabku
Setelah pamit sama oma , Oma meminta Revon untuk
bermalam disini karena kami hanya berdua.
Akhirnya dia memutuskan untuk bermalam dan esok kan
pagi nya pulang untuk kuliah.
MENGENAL
KELUARGA AKU
Hari
berganti Minggu , Minggu berganti Bulan . Hubungan kami semakin akrab dan dekat
, dia mengajak aku bertemu dengan Keluarga kakaknya. Disitu aku bertemu dengan
kakak perempuan dua keponakannya yang cepat akrab dengan orang baru dan setelah itu aku diajak kerumahnya untuk kenal
dengan kakak laki – laki , ayah dan ibunya. Semakin hari aku semakin akrab
dengan keluarganya, aku dianggap sebagai anaknya sendiri, singkat cerita rumah
dia sudah menjadi rumah kedua untukku , ketika aku sakit pun aku lebih memilih
untuk mamanya yang merawat aku daripada dirumah aku sendiri. Bulan berganti
tahun , udah genap satu tahun kita bersama , aku memesan cupcakes special
dengan karikatur wajah kita. Dan dia membooking tempat makan malam di atas
gedung dengan ruangan terbuka daerah Semanggi.
Setiap momen penting dihidup aku , dia selalu
mempersiapkan rencana untuk memberi kejutan.
Hal yang paling indah adalah , ketika tahun kedua
kita bersama , di tengah malam ulang tahun aku dia telepon dan meminta aku
untuk keluar rumah. Sontak aku terkejut , dia mengajak Vita , Carlin dan Limah
kerumah dan dia menyiapkan pemain biola , kue dan boneka. Ya Tuhan , malam ini
indah sekali.
Sahabat – sahabat dan pacar membuat kejutan semanis
ini. Benar – benar tidak bisa aku lupakan.
Terima kasih Revon , karena kamu hari – hari aku
selalu di hiasi dengan warna – warni.
Perjuangan kami benar – benar dari awal, bagaimana
tidak dari awal ?
Dia kuliah dan aku belum bekerja. Ada satu kisah yang
paling sedih yang kita jalani berdua , saat kita sama – sama tidak ada uang
untuk sehari – hari , hanya mengandalkan uang saku yang ayah Revon berikan
setiap hari, dan aku pun malu untuk meminta terus ke Papa. Akhirnya ada ide
untuk kita membuat sebuah online shop . Kita berdua yang mencari bahan untuk
jualan , kita yang mempromosikan lewat media social dibantu oleh kakak
lelakinya yang mengerti soal promosi.
Beberapa bulan usaha kita berjalan lancar dan kita
berhasil , aku mendapatkan pekerjaan di salah salah satu perusahaan sebagai
resepsionis, dia mengurus usaha onlineshop kami sendirian untuk belanja
pesanan.
Setiap pagi dia mengantar aku kerja , lalu kekampus
dan setelah pulang kampus dia berbelanja.
Dan pada akhirnya kakak Revon menawarkan kerja
diselala libur kuliahnya , menjadi team leader di salah satu divisi.
Onlineshop kami pun berhenti setelah belum setahun
berjalan, dia dan aku sibuk bekerja.
MASALAH
MULAI BERDATANGAN
Papa
sepertinya sudah berubah , setiap Revon kerumah reaksinya sudah diam dan seolah
tidak mau tahu lagi. Memang Revon dan Papa tidak dekat , hanya sekedar tegur
sapa saat Revon main kerumah.
“ Papa gak suka kamu dekat lagi dengan dia ! “ Papa membuka pembicaraan dengan nada tinggi.
“ Kenapa Pah ? kok tiba – tiba seperti ini ? “
Jawabku kepada Papa.
Ntah kenapa dari sejak dulu papa tidak pernah setuju
aku dekat dengan seorang pria, dulu waktu aku pacaran dengan Hada ( Nama mantan
waktu SMA hingga aku mulai bekerja ), papa juga bersikap seperti ini , tetapi
kali ini papa lebih melarang.
“ Papa gak suka kamu pacar – pacaran dengan dia ,
karena dia itu saudara sedarah dengan kamu ! “ papa menegaskan.
Bagai tersambar petir disiang bolong, bagaimana bisa
aku sama dia masih sedarah? Kenapa papa gak bilang dari awal? Kenapa setelah
masuk tiga tahun hubungan kita , papa baru angkat bicara.
Aku pun gak percaya begitu saja, aku mencaritahu kepada
ayah Revon.
“ Ngga lah , kita saudaraan dari mana ? Om sama
almarhum Opa kamu itu berteman , bukan saudara.” tegas ayah Revon. “ Ternyata ayah Revon adalah teman Almarhum Opa
dulu , mereka kenal dan akrab.
Usut punya usut , ternyata ada satu orang tetangga
aku menghasut papa agar tidak suka sama Revon.
Waktu itu pukul 22:00 malam aku pulang diantar Revon
, dengan tatapan penuh amarah papa pergi meninggalka Revon yang ingin pamit
pulang. “ Kamu gak dengar yaa apa yang papa bilang ? papa gak suka kamu sama
dia !! “ bentak papa. “ Tapi pah , kenapa ? aku uda cari tahu Revon bukan gak
ada ikatan darah sama kita . “ sahut ku.
“ Sekarang kamu udah berani ngelawan yah, dia ngajarin
kamu ngelawan orang tua ? hahh !! “ penilaian papa yang tidak beralaskan.
Akhirnya aku tinggal masuk kamar. Revon menelpon “ sayang lagi apa ? udah mau
bobo yah ? “ dengan nada manja. “ aku lagi dikamar aja mikirin omongan papa “
jawabku.
“ Gak usah dipikirin yaa sayang , mungkin papa kamu
habis di hasut lagi sama si kutil ( nama sebutan untuk pria rese itu ),
sekarang mending bobo , besok kan kerja lagi. “
Semenjak itu aku tidak pernah mengizinkan Revon
kerumah lagi dan kamipun backstreet.
Ada aja sikap papa , yang menekan aku untuk berpisah
dengan Revon dan memang akhir – akhir ini aku dan Revon sering bertengkar. Dan
aku pun memutuskan untuk berpisah , tetapi Revon tidak menerima dia tetap ingin
menjalani ini semua.
BENARKAH
YANG AKU PILIH ?
Setelah berpisah dengan Revon aku
tak sengaja mengenal seorang pria yang tidak lain adalah teman adikku dia
adalah Rudin, pria ini benar – benar agresif setiap ketemu di rumah dia selalu
memaksa aku untuk menerima cintanya. Dengan berat hati dan belum bisa melupakan
Revon , aku menerima cintanya. Satu bulan dia dekat dengan aku , dia
mengutarakan keinginannya untuk melamar aku kepada kedua orang tuaku. Mungkin
aku orang yang paling salah , aku menyetujui lamarannya tapi dihatiku masih ada
Revon. Tiga bulan berjalan, ada banyak berita burung mengenai Rudin , waktu itu
lebaran pertama aku bersama dia dan dia mengajak aku kerumahnya untuk bertemu
keluarganya. Ketika itu aku gak bertemu siapa – siapa dirumahnya , padahal dia
udah bilang kepada orang tuanya bahwa aku akan berkunjung. Aku hanya bertemu
adik perempuan dan kakak perempuannya. Aku ngobrol dan tidak lama aku pamit. Singkat
cerita aku mencoba untuk dekat dengan keluarga Rudin seperti aku dengan
keluarga Revon. Ternyata sikapku salah, kakak perempuan Rudin sangat tidak
sopan , dia menuduh aku adalah penyebab perubahannya Rudin selama dia dekat
dengan aku dan memojokkan aku bahwa aku memonopoli keuangan Rudin selama ini
karena Rudin tidak pernah memberikan kepada orang rumahnya lagi. Aku pun gak
pernah tahu bagaimana pendapatan Rudin. Mama dan Adik Ipar Papaku akhirnya
bertindak karena banyak rumor soal diriku,karena Rudin ternyata tetangga dekat
Adik mamaku. Pada malam tahun baru mereka datang bertemu dengan Ibu dari Rudi .
Ibu Rudin bilang bahwa Rudin gak pernah bilang sudah melamar aku dan kabar
burung soal aku , dia tidak pernah bicara. Ntah siapa yang benar , jawaban
Rudin dan Ibu nya berbeda. Akhirnya suatu malam aku diajak bertemu Ibu Rudin
dengan Rudin , Mama dan Tante . Dan semua kebohongan Rudin terkuak aku
memutuskan untuk bilang langsung kepada Ibu Rudin kalau mulai malam ini saya
dan dia tidak ada hubungan apa – apa lagi , apapun menyangkut soal saya udah
diluar tanggung jawab saya. Sesampainya dirumah , saya langsung masuk kamar ,
dan Tante berbicara dengan Papa. Papa kecewa dengan Rudin, tega – tega nya dia
berbohong dengan Papa. Rudin masih menghubungi saya dan memohon agar tidak
meninggalkan dia.
Semenjak kejadian itu papa bersikap lebih peduli dan
sayang lagi padaku.
AKU MASIH
MENCINTAI DIA
Aku memantau kegiatan Revon di media social ,
ternyata dia lagi sibuk Tugas Akhir.
Aku coba menyapa dia dan gak lama dia membalas .
Sejak itu akupun terus menghubungi dia.
Aku ingin sekali bertemu dia , uda hamper empat bulan
aku gak melihat dia.
“ Aku lagi mau cari buku baru nih , kamu ada waktu
gak buat nemenin aku ? “ aku bbm Revon.
“ Aku bisa kok, kamu mau kesana kapan ? mau aku
jemput ? “. Balas Revon
“ Besok jam 7 malam yaa , aku tunggu kamu di Toko
buku Matraman ya.” Jawabku.
Keesokkannya jam 7 lewat aku baru sampai , dari
kejauhan aku melihat pria yang selama ini aku rindukan, pria itu Revon , yang
sedang menungguku di depan toko buku.
“ Kamu udah lama disini ? “ tanyaku. “ ngga kok aku
baru sampai juga..yuk ke dalam” Jawab Revon.
Sebenarnya sih aku belum butuh buku baru, itu hanya
alasan agar bisa ketemu dia.
Kurang lebih 1 jam kami muter – muter untuk mencari
buku yang aku mau, kita cari makan di dekat toko buku.
Disitu Revon menggenggam tanganku dan bilang “ kita
bisa gak yaa kaya dulu lagi ? aku masih sayang kamu “.
Aku gak bisa berucap apa – apa karena aku masih
mencintai dia juga. Aku hanya menggangguk untuk menandakan iya. Beberapa minggu
kemudian dia bilang “ aku lulus donk , akhirnya aku ganti nama jadi Revon SH “.
Haru mendengar berita itu , dan di hari wisudah dia
aku hadir dengan Ibu Revon.
Tidak lama Revon mendapatkan pekerjaan di salah satu
Bank Swasta di bagian personal load sebagai Leader.
Semenjak bekerja , Revon mulai berubah seolah aku dan
dia berjarak. Mungkin karena pekerjaannya yang menyita waktunya. Muncul lagi si
mulut pengadu, papa mulai marah – marah lagi. Aku bicara dengan Revon persoalan
ini lagi, aku bilang “ aku beri kamu waktu 3 bulan untuk dekat dengan papa.
Apalagi yang kamu takutin ? kamu udah bekerja sekarang dan kamu bisa membuat
itu sebagai jaminan kamu untuk bisa di perlihatkan di depan papa. “
Tiga bulan berlalu tapi gak ada tanda bahwa mereka
bisa dekat, aku pun gak bisa memilih antara papa atau Revon.
Dibulan ketiga , bertepatan dengan hari ulang tahun
aku , aku dan Revon pergi merayakannya di Bogor.
Revon benar – benar bukan seperti Revon yang aku
kenal, Revon lebih masa bodo dan cuek.
Kita pun sudah lebih sering bertengkar.
KEPERGIAN
PAPA MENGHANCURKAN HATIKU
Sabtu
subuh , mama membangunkanku karena papa teriak kesakitan di dadanya.
Papa dibujuk ke Rumah Sakit tidak mau , papa hanya
menjawab “ Papa mau disini aja , sebentar lagi “
Pagi harinya adik papa memaksa untuk menggotong papa
ke RS dan kami membawa papa ke RS bilangan Rawamangun , yang tidak bertindak
cepat setengah jam papa masuk UGD . Disitu ada Revon , dia bertemu papa , Revon
juga sempat menggendong Papa untuk di rebahkan di tempat tidur. Papa gak
berkata apa – apa ke Revon , Cuma tatapan kosong memandangnya. Siang hari tepat
jam 11 aku dan Revon masih menunggu di ruang tunggu UGD, mama berteriak “ kaka
.. papa tuh .. “ aku dan Revon berlari ke dalam , papa sudah tidak menyadarkan
diri . Dan dokter sudah menangani papa. Kehendak Tuhan berbeda , papa pergi
meninggalkan aku dan keluarga. Siang itu hati aku hancur menerima keadaan
ini. Kenapa pergi tanpa pernah
menjelaskan kenapa dia tidak menyukai Revon.
MUNGKIN INI
TERBAIK
Dengan keadaan hancur aku mengambil sikap untuk
meninggalkan Revon.
Revon berubah sikapnya , dia lebih dekat dan peduli
padaku dan keluargaku.
Tetapi aku sengaja berubah . Setiap Revon kerumah ,
aku mengusirnya dengan nada tinggi dan marah – marah.
Beberapa minggu selalu seperti itu, aku gak tahu
harus bagaimana lagi ?
Aku dan dia tanpa restu Papa, dan kini papa pergi .
Papa sempat melontarkan pernyataan “ sampai matipun papa gak setuju kamu sama
dia “
Aku harus apa selain aku bersikap seperti ini ? hati
dan sikap aku bertentangan.
Tapi ini cara satu – satunya agar Revon pergi dari
aku mungkin ini terbaik.
Aku juga sengaja tidak menghapus chat dari Trian, pria
yang tidak sengaja aku kenal melalui Octa, salah satu teman aku.
Akhirnya Revon menyerah dan benar – benar
meninggalkanku.
Dengan segala penyesalanku, aku melepas dia.
Dan beberapa bulan kemudian , aku mendengar bahwa
Revon sudah mempunyai kekasih baru teman kantornya.
Aku pun memutuskan untuk memulai hubungan baru dengan
Trian , aku pun belum yakin 100 % bahwa pilihanku adalah benar. Tetapi mungkin
ini jalan Tuhan , aku dan Revon berpisah dan dipertemukan dengan Trian.
Awal aku menjalin hubungan dengan Trian , aku merasa
aneh karena Trian suka menceritakan mantan pacarnya.
Sedangkan aku dengan Revon dulu gak pernah seperti
ini , Revon pun tidak pernah membahas persoalan mantannya ataupun bertanya soal
mantanku. Hari berganti hari ,aku mencoba belajar membuka hati dengan menerima
kenyatan bahwa sekarang aku dengan Trian. Banyak persoalan yang aku hadapi
sepeninggalan Papa. Dan hanya Revon yang tahu benar bagaimana keadaan aku. Teman
curhatku hanya Vita, karena Vita sahabatku dari Sekolah dan dia tahu bagaimana
aku. Vita hanya bisa memberikan masukkan – masukkan ,mendengar keluh kesahku,
karena mungkin Vita juga bingung harus bagaimana. Beberapa bulan kepergian papa
, berat badanku mulai meyusut, banyak yang bilang aku benar – benar kurus
sekarang. Bagaimana gak kurus , aku memikirkan semuanya sendiri tanpa ada yang
bisa aku jadikan tempat berbagi. Aku mau menceritakan semua ini pada Trian,
tapi aku gak bisa , karena aku belum percaya bahwa dia bisa menerima segala
keadaan aku.
TERIMA
KENYATAAN
Revon
masih terus berada dipikiran aku , aku masih belum bisa melupakan dia
sedikitpun meski kini aku bersama Trian. Tetapi aku berpikir sampai kapan aku
begini ? Revon sudah bahagia dan aku masih saja memikirkan dia. Aku harus
terima kenyataan ini, meski berat. Tapi ini jalan yang sudah aku pilih.
Revon , meskipun kita gak bersama lagi , aku yakin
kamu orang yang paling konsisten dan bertanggung jawabdalam menjalin hubungan ,
aku berdoa semoga kamu berbahagia , semoga dia selalu memberikan kebahagiaan
yang gak pernah kamu dapatkan dari aku. Terima kasih , atas 5 tahun ini kamu
telah menjadi lelaki yang terindah dalam hidupku. Lelaki yang benar – benar
memahami segalanya tentang aku. Semoga Tuhan memberikan rejeki , kesehatan dan
kebahagiaan selalu. Selamat tinggal Revon.
Beberapa bulan , aku belum bisa menjadi diriku
sendiri ketika bersama Trian , karena mungkin perbedaan usai yang membuat aku
agak segan dengan dia.
Trian pun terkadang menunjukkan sikap seolah dia
sudah jauh lebih dewasa dariku.
Berberapa bulan aku dekat dengan dia , aku meminta
dia untuk menunjukkan keseriusannya yaitu untuk melamar.
Dia pun mengiyakannya.
MUNGKIN
INI JALAN DARI TUHAN
Aku
minta 3 bulan setelah pembicaraan itu, dia dan perwakilan keluarganya untuk
datang kerumah menentukan tanggal pernikahan. Tanggal pernikahan pun sudah di
tentukan , aku mencari kesibukkan sendiri yaitu mempersiapkan pernikahan. Aku
semakin membuka hati untuk Trian, aku mencoba mengenal segala sifatnya. Tapi
anehnya Trian gak seperti itu ke aku. Dia sifatnya berbeda dengan pria lain
yang pernah singgah dihidupku, ada beberapa sifat dia mirip papa. Aku bisa
belajar memanage keuangan dari dia , karena aku dan adik aku yang kedua sekarang
menjadi tulang punggung untuk rumah. Aku benar – benar belajar sikap lebih
sabar lagi dari Trian , karena dia selalu menguji kesabaran aku. Sempat aku berpikir
bahwa benar gak pilihanku untuk menikah dengan Trian ? banyak sifat dia yang
gak masuk dengan aku , Vita tau segalanya karena aku selalu bercerita
dengannya. Terkadang agak goyah , tapi Vita selalu mensupport aku dan memberi
banyak masukkan. Aku mulai belajar menjadi diri aku sendiri , karena selama ini
aku hanya mengikuti keadaan, karena sejak kepergian papa , aku menjadi orang
yang jauh lebih pendiam dan selalu menghindar dari masalah. Aku mulai berani
untuk berbicara apa yang aku tidak suka dan aku suka. Sepertinya aku udah
menemukan kemistri dengan Trian. Aku
mulai merindukan dia dihari – hariku. Dia sudah menjadi tempat bercerita semua
keluh kesahku , sepertinya aku mulai nyaman bersama dia.
PERSIAPAN
MENUJU PERNIKAHAN
Sekarang – sekarang ini aku sedang mengurus persiapan
menuju pernikahan aku dan Trian, aku smakin banyak berkomunikasi dengan Trian.
Semakin aku mengenal dia , aku merasa Tuhan memang memasangkan dengan pasangan
yang tidak kita kira sebelumnya. Cara dia berpikir dalam memutuskan sesuatu
membuat aku yakin bahwa aku bisa menjadi lebih baik lagi dan lagi.
Cekcok pasti ada , aku yang sekang sangat jauh
berbeda dengan aku yang dulu , sedikit flash back aku yang dulu adalah
perempuan yang egois, pemarah, pencemburu ( sekarang masih juga sih ) . Tetapi
aku belajar dari masa lalu , bahwa mengendalikan emosi jika sedang marah itu
jauh lebih menantang ketimbang aku harus menguras tenaga untuk bernada tinggi.
Dan sekarang , aku lebih suka diam dan mendengar
penjelasan.
Ntah semua kejadian dalam hidupku ini , aku terima
sebagai anugrah atau cobaan?!
Yang pasti , Allah akan memberi jalan terbaik bagi
hambaNya yang mau berubah menjadi lebih baik lagi dan lagi.
Dan aku yakin , kisah cinta tanpa restu pasti ada
alasan tersendiri bagi orang – orang tua yang merasakannya. Meski aku pun
sampai sekarang gak tahu juga apa alasannya , aku hanya bisa selalu berbaik
sangka bahwa ada rahasia yang luar biasa yang Allah siapkan setelah kita mengalami keterpurukan.
Jangan membuang waktu dalam hidup , selagi kita masih
bisa bersama dengan orang yang kita sayangi, hargai keberadaannya.
Karena kita akan merasa sangat mencintainya ketika
kita sudah kehilangan.
Like this story :)
BalasHapus